14 September 2012

Kuliah Kerja Nyata, Sebuah (Satu Bagian) Pelajaran Hidup

Hidup adalah proses belajar, mulai dari kita bayi sampai bujangan seperti ini, tak henti-hentinya proses itu kita jalani. Tak terasa sudah 2 dasawarsa lebih saya menjalaninya, banyak hal yang dipelajari, baik dan buruk, bersumber dari orang tua dan keluarga besar, guru, dan seluruh penjuru tanah air (?).
Biasanya, perjalanan ini agak macet ketika kita sudah menginjak remaja, karena tertutupi oleh rasa ego yang tinggi. Biasa... remaja..., begitu pikir orang tua dan para sesepuh kita.
Tetapi ketika menginjak umur 20 tahun ke atas, biasanya rasa ego itu berkurang (sedikit), yang akhirnya membuka sedikit jalan masuk untuk mempelajari lagi segala sesuatu tentang hidup. Kalau di game "The Sims", umur 20 tahun ke atas adalah masa adult teen, yang berarti peralihan dari remaja menuju dewasa.
Ya, kita sudah semakin dewasa saja, saudara saudariku...
Dewasa dalam artian secara umur, namun secara pikiran itu tergantung individu masing-masing. Seperti kata seseorang (saya lupa), "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.".

--o---o--

Sebenarnya, tulisan ini adalah lanjutan dari "Lembaran Kehidupan Baru" yang sudah pernah saya publikasikan sebelumnya. Jika Anda belum membacanya, silahkan dibaca (kalau mau, saya juga tidak memaksa).
Jadi KKN ini adalah salah satu terobosan dalam lembaran kehidupan, dan itu bisa dibilang baru (namanya juga terobosan).
Realitanya, saya dan teman-teman satu unit, dalam hal ini unit 27, ditempatkan di Desa Ponggok, suatu desa kaya yang bertempat di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu unit itu dipecah lagi menjadi beberapa subunit: 1, 2, 3, dan 4. Masing-masing subunit ditempatkan di dusun yang berbeda-beda.
Subunit 1 di Ponggok 1, subunit 2 di Ponggok 2, subunit 3 di Kiringan (yang ini paling sesuatu), dan subunit 4 di Umbulsari.
Saya kebetulan bertengger di subunit 2 bersama dengan beberapa teman saya yang lain. Dan secara sengaja sekali, hanya saya satu-satunya anak teknik di subunit ini (mantap!).
Di KKN ini, ada satu hal yang membingungkan kami, khususnya anak teknik, mengapa?
Karena tak dinyana, desa ini kelewat kaya sehingga tidak lagi membutuhkan pembangunan fisik, terus?
Ya naluri kami kan membangun dan membangun dan terus membangun, itulah mindset awal kami. Ya sudah kalau memang tidak butuh pembangunan fisik, setidaknya bagian dalam desa ini mengalami kegalauan, tidak perlu saya jelaskan ya rasa-rasanya.
Untung saja, semua klaster tidak harus menjalankan program sesuai bidangnya, setidaknya ini cukup membantu untuk memikirkan program di luar sains teknologi. Dan secara kebetulan yang sangat disengaja, program saya kebanyakan dari klaster sosial humaniora, mau tidak mau supaya memenuhi jam kerja.
Yah namanya juga harus memenuhi jam kerja, tentu saja tidak jauh dari yang namanya 'penyesuaian', ah "if you know that I mean".
Kita lupakan saja apa itu program kerja, setau saya ini tidak terlalu penting untuk disampaikan :p

--o---o--

Kembali ke benang merah, sebenarnya saya mau bercerita tentang hal-hal yang saya dapat selama KKN, tentunya tentang kehidupan, yang saya sebut-sebut sebagai terobosan.
Agak berlebihan memang kalau saya sebut sebagai terobosan, tetapi anda sebagai pembaca seharusnya tidak usah terlalu memikirkan ya, toh saya mutlak atas tulisan saya (peace) :D
Satu hal, ya satu hal yang saya dapat dari KKN ini, yaitu tentang kebersamaan, kekompakan dalam tim. Di sana saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan disiplin ilmu yang lain, yang jelas-jelas agak sangat berbeda jalan berpikirnya dengan filosofi keteknikan.
Berbeda dalam hal cara berpikir itu termasuk tembok penghalang komunikasi antar individu, karena kami dari berbagai fakultas berusaha untuk mempertahankan ego, tapi itu hanya berlaku di awal-awal, selang beberapa minggu akhirnya ego itu sudah tidak terlihat, karena sudah mulai berbaur dan mulai bisa menerima berbagai pikiran 'yang aneh-aneh' :))
Untuk bisa bekerjasama menjalankan suatu program 'andalan', tentu saja tembok itu harus dihilangkan jauh-jauh, paling tidak cukup dirubuhkan sedikit dulu tanpa meruntuhkan fondasinya (tsaaaah pikiran keteknikan mulai muncul). Karena jika fondasinya runtuh, ya hilanglah 'idealitas' kita. Kenapa idealitas saya beri tanda petik? Karena pada umumnya kita mengakui memiliki idealitas masing-masing, ah tapi itu cuma wacana kok, toh pada akhirnya realitaslah yang dominan, iya kan? :p
Nah ketika penghalang itu sudah tidak lagi menjadi masalah, timbullah suatu bangunan baru yang dinamakan jembatan komunikasi, yang berfungsi untuk menyambung aspirasi dari berbagai elemen disiplin ilmu. Kita padu mereka (aspirasi-aspirasi) ke dalam suatu wadah. Kita tampung di sana untuk kemudian kita pecahkan, kita pikirkan, kita salurkan, tentu saja sesuai dengan kesepakatan masing-masing.
Intinya, musyawarah dan musyawarah, diskusi dan diskusi, sampai didapatkan suatu premis yang bisa dibilang masuk akal, tidak merugikan siapapun, dan tanpa paksaan siapapun (biasanya ada yang maksa tapi itu gak masalah).
Dari diskusi dan diskusi yang intens inilah, akhirnya saya bisa menemukan suatu terobosan. Kemampuan berbicara lumayan meningkatlah, tidak seperti biasanya. Biasanya saya pendiam gitu deh (terserah anda mau percaya atau tidak, haha).
Lalu... ah bagaimana kalau ini saya sambung nati saja dulu ya? Sudah kebanyakan ngetik capek cyiiin :))
Sampai jumpa di post selanjutnya yang belum pasti kapan akan saya lanjutkan :p

"Chase your passion, so you can feel the essence of your life."
-Tiko, from my random thought-

20 August 2012

Lembaran Kehidupan Baru

Kalau dilihat dari judul, jangan berpikiran bahwa saya akan segera menikah. Judul itu hanya menandakan saya menemukan suatu lembaran baru dalam hidup saya yang berdampak pada kehidupan masa depan, setidaknya mulai saat ini hingga beberapa tahun lagi.
Apa sih lembaran hidup baru itu?
Menurut wikipedia, silahkan cari sendiri, dalam hal ini saya akan mendefinisikannya sendiri sesuai keinginan pribadi, tanpa paksaan dari pihak manapun, tanpa diintimidasi oleh berbagai kumpulan energi negatif lainnya.
Jadi lembaran hidup baru itu adalah suatu penemuan atas jati diri kehidupan dari berbagai aspek, mulai dari keuangan, idealisme, filosofi, jodoh, dan keteknikan (?). Keteknikan itu hanyalah satu intermezzo yang saya paksa masukkan karena sejatinya saya adalah anak teknik, hehe. Penemuan jati diri itu harus sama sekali baru dan sama sekali berbeda dengan diri kita yang sekarang. Jadi definisinya sudah jelas ya? Oke lanjut kalau begitu.
Nah lembaran hidup baru itu bisa ditemukan dari berbagai sebab. Ada yang didapat karena dibimbing oleh rekan, ada juga yang menemukan sendiri dari sebuah latihan yang diadakan oleh institusi tertentu.
Untuk kasus saya, merujuk pada latihan yang diadakan oleh institusi tertentu, dalam hal ini tidak akan saya sebutkan. Yang jelas institusi itu --ah kita sebut saja lembaga-- khusus menangani bidang pemberdayaan masyarakat. Dari pikiran kita pasti yang terbayang adalah suatu pelatihan pembelajaran yang bernama KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Naga-naganya tidak perlu saya jelaskan apa itu KKN, saya rasa pembaca di sini sudah pernah merasakannya, khususnya yang angkatan tua (apa kabar skripsi?).

--o---o--

Jadi kebetulan saya KKN ditempatkan di Desa Ponggok, Klaten. Desa dimana air bersih melimpah dengan beberapa titik air mata, eh mata air, yang tersebar di sekitarnya. Saya lupa ada berapa mata air di sini, yang jelas semua bersih dan bisa dipakai untuk mandi, cuci baju, dan minum (kalau mau dan kebal terhadap bakteri patogen pengganggu pencernaan).
nb: Untuk cerita mengenai KKN ini nanti akan saya jelaskan lebih lanjut serta terinci di postingan selanjutnya, jadi kali ini khusus membahas mengenai lembaran baru saja ya.

Apa sih lembaran kehidupan baru yang saya dapat dari KKN itu?
Jawabannya... ya banyak sekali. Banyak banyak banyak sekali. Suatu pengalaman yang belum pernah saya alami di ruang pikiran normal saya selama duduk di bangku universitas rakyat.
Dari KKN itu sendiri saya menemukan satu filosofi hidup baru, suatu pencerahan yang saya cari-cari selama ini, bahwa hidup itu tidak selamanya linier dan tubuh tidak semestinya tersier (kayak lirik lagu ya?).
Salah satu filosofi hidup yang saya dapat adalah bagaimana kita (harus bisa) berharmoni dengan anak-anak. Saya termasuk orang yang kurang bisa meng-handle anak-anak (itu dulu), tapi semenjak KKN saya jadi lumayan agak bisa menangani mereka, terima kasih tong fang (?). Kok bisa? Ya bisa dong, saya mempelajarinya langsung dari mahasiswa psikologi satu pondokan, hoho.
Ternyata... menangani anak-anak tidak sulit kok, cuma butuh sedikit kesabaran, hitung-hitung latihan jadi bapak :)
Itu... baru satu dari sekian filosofi hidup yang saya dapat, masih banyak yang lainnya. Tapi karena terkendala oleh rasa malas yang menjerat alam kesadaranku, jadinya terhalang deh.

Satu lagi lembaran kehidupan baru yang saya dapat dari KKN. Seperti kata dosen waktu pembekalan,"KKN adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan jodoh."
Awalnya perkataan dosen itu saya anggap sebagai suatu gurauan. "Ah masa?" gumam saya. Tak dinyana saya termakan oleh gumaman saya sendiri.
Sebuah gumaman yang pada akhirnya menyeret saya ke dalam lubang (halah) yang terang, yang penuh oleh bunga-bunga penyambut kebahagiaan. Tergambarkan oleh bunga lily warna pink yang menyeruak dari sebuah lingkaran abstrak, memberikan kesegaran bagi siapapun yang menyadari keberadaannya.
(Terlalu puitis saudara-saudara... Ini berbahaya, ini bukan diri saya.)
Tapi ini justru sebagai kemajuan dalam lembaran kehidupan saya, dulu saya tidak serius memikirkan hal ini. Baru kemudian setelah sadar bahwa saya sudah tahun keempat, itu berarti saatnya untuk mencari tulang rusuk yang terselip (bukan hilang). Ditambah lagi oleh pertanyaan orang tua dan keluarga, "Sudah ada ehem belum?"
Pertanyaan yang belum bisa saya jawab hingga beberapa minggu ke depan, setidaknya sampai sekarang saya masih berusaha untuk menjemputnya, berusaha membingkainya dalam sebuah cerita baru perjalanan kehidupan. Saya serius akan hal ini, tidak pernah saya seserius ini :)
Semoga lembaran baru ini bisa sukses...

Sekian...

"onaji hoshi ni tatte, anata wo zutto matte itai"

01 February 2011

Memasyarakatkan Kembali Transportasi Massal

Ah, lama rasanya saya gak update blog ini, sudah berapa tahun ya?
Yah kurang lebih setahun lah

Langsung ke inti ajalah
Posting kali ini saya akan membawa sebuah topik yang ... ah mungkin sebagian bilang tidak perlu, sebagian tidak perduli, tapi saya bilang ini perlu.
Mengapa?
Coba deh kita lihat sekitar kita, motor dijual terjangkau sehingga banyak yang beli.
Mobil meskipun mahal, tapi bagi kalangan di atas garis kekayaan, tentu membeli mobil bukan suatu hal yang sulit, bahkan bagi mereka mobil ada kebutuhan.
Bayangkan saja kalangan menengah dan kalangan kaya itu punya kendaraan pribadi masing-masing, asumsikan saja 1 motor dimiliki 1 orang dan 1 mobil dimiliki 1 keluarga, ini hanya asumsi loh, kita lupakan saja yang punya 2 mobil dalam 1 keluarga, hehe.
Sudah bisa anda asumsikan dan anda gambar dalam otak anda sekalian?
Kalau sudah bayangkan lagi anda berada di kota besar, anggaplah Jakarta, penduduknya berapa, saya gak tau persis, jadi anggap aja ada 1 juta (entah itu kelebihan atau ada yg kurang, mohon koreksi).
Sudah barang tentu pasti akan macet bukan?
Coba kita lihat gambar di bawah ini


Gimana? Semrawut kan?
Gambar itu saya dapat dari hasil gugling.
Kita bayangkan saja 5 tahun lagi, ah tidak, mungkin 3 tahun lagi ajalah.
Sudah barang tentu pasti akan lebih kacau dari gambar di atas, maukah kalian kalau kota Jakarta jadi lebih semrawut seperti itu?
Kalau saya sih gak masalah, soalnya Jakarta bukan kota saya, hehe peace jangan anggap serius, just joke.
Tentu tidak mau kan seperti itu? Kalau sudah begitu mau kemana-mana juga pasti macet, mending jalan kaki dah kalau gitu, tapi masalahnya, gak semua tempat bisa kita akses hanya dengan jalan kaki, bisa gempor malahan.
Nah untungnya pemerintah Jakarta itu baik, mereka sudah sediakan bus transjakarta, inilah cikal bakal dari MRT masa depan, meskipun belum semua tempat bisa diakses, tapi lumayanlah buat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang tidak manusiawi itu.

Mungkin gak semua masyarakat setuju dengan adanya bus seperti itu, ada lajur khususnya, bikin macet katanya. Memang seperti itu, hal inilah yang ingin dibidik oleh pemerintah, mereka mau kita semua menggunakan transportasi massal. Adapun dibuat lajur khusus yang bikin macet itu yaitu cuma strategi, saudara-saudari sekalian.
Nah kalau macet kan pasti lirik-lirik bus trans tuh, kalo udah gitu pada pengen naik transjakarta toh? Hehe.

Ah itu seputar Jakarta, saya gak tau sedetil yang orang Jakarta tahu.
Karena saya berdomisili di Jogja, ya paling tidak sampai lulus S1, ya saya cuma tahu kondisi yang sebenarnya di Jogja.
Jogja juga punya bus trans seperti transjakarta, namanya bus transjogja.
Meskipun baru beberapa tahun beroperasi, tapi sya rasa pelayanannya sudah cukup baik lah.
Hanya saja masih banyak tempat yang belum terjamah oleh transjogja, inilah yang akan jadi PR kita semua, terutama mahasiswa teknik sipil, termasuk saya, hehe.
Kalau saja seluruh masyarakat Jogja mendukung penuh kehadiran bus ini, mungkin suatu hari akses akan diperbanyak, jadi dimana-mana ada, jadi gak perlu lagi yang namanya kendaraan pribadi.
Oke saya rasa kita gak mungkin kan meninggalkan motor mobil kesayangan kita, jangan dijual apalagi dibuang, mending masih kita pakai untuk jarak dekat tapi kita malas jalan, masih berguna bukan?

Nah dengan melihat segala kemungkinan di beberapa tahun ke depan, mari kita masyarakatkan kembali penggunaan transportasi massal, lebih nyaman lebih aman dan lebih cepat (kalau soal kecepatan sangat relatif, oke kita gak perlu berdebat tentang hal ini).
Dengan penggunaan transport massal itu, pasti akan mengurangi penggunaan bahan bakar, dan bahan bakar itu pasti efektif, sehingga mengurangi efek dari global warming.

Ayo, kita gunakan transportasi massal (untuk kalian yang bisa mengaksesnya dengan mudah), kecuali di tempat kita gak ada transportasi massal sedikitpun.

Oke salam sehat selalu, jya... mattane...