11 December 2013

Sayap

Orang bilang, angin itu bisa menyampaikan pesan ke orang yang kita sayangi: orang tua, sahabat, saudara, kekasih, dosen (?). Saya pribadi kurang percaya dengan hal itu, karena di diktat Mekanika Fluida (dalam hal ini, udara) tidak ada mencantumkan mengenai kangen dan angin. Tidak ada korelasinya, saya secara tegas menolak, atas nama sains.

Tugas angin itu, salah satunya adalah menerbangkan, apapun, mulai dari daun, debu, layang-layang, masa lalu (oke ini ngaco), dan benda-benda lainnya yang masih bisa diterbangkan oleh angin (tentu saja dengan berbagai kecepatan berbeda-beda untuk setiap massa jenis benda).

Selain untuk menerbangkan, angin juga berfungsi sebagai prasarana dari benda-benda yang bergerak di udara, hidup atau tidak hidup. Contoh benda hidup yang memerlukan angin adalah burung (hewan, jangan pikirkan burung yang lain, sudah saya bilang jangan pikirkan kok masih bandel). Contoh benda tidak hidup (buatan manusia) yang memerlukan angin adalah pesawat. Tidak perlu saya jelaskan lebih lanjut mengenai pesawat, saya sudah lelah (?).

Sudah tergambar jelas, yang namanya benda terbang (tidak termasuk piring terbang) pasti membutuhkan angin supaya bisa terbang. Bagi burung, terbang bukan berarti bebas, meski kita semua menganggapnya suatu kenikmatan tersendiri untuk bisa terbang dengan bebasnya. Faktanya, burung tidak selalu merasa bebas, apalagi jika terbang sendiri, tanpa koloni yang bisa mengurangi hambatan udara kencang di depannya.

Begitulah manusia (bukan burung), kita kuat jika bersama koloni kita (dalam hal ini, sebagai pria, ya maksudnya para sahabat pria), kita menjadi lemah jika tidak bersama koloni, lebih tepatnya, terlihat lemah. Padahal, pantang hukumnya bagi pria terlihat lemah di hadapan khalayak ramai. Nah, koloni itu seperti bulu-bulu yang ada pada sayap. Tapi sayangnya, bulu bukanlah penopang utama sayap, melainkan tulang. Nah, tulang yang membentuk sayap inilah yang dinamakan keluarga dalam struktur kehidupan. Mereka penopang utama kehidupan kita, tanpa mereka, kita bukan apa-apa.

Tulang yang membentuk sayap, yang saya bilang dengan keluarga, terdiri atas struktur yang komplit. Semakin kompleks ia, semakin kuat strukturnya. Keluarga itu sendiri terdiri dari keluarga yang kita kenal sejak lahir, dan keluarga yang kita kenal setelah kita melalui berbagai fase hidup sampai di atas 20 tahun. Umur di mana cinta dirasa adalah hal yang suci, tidak lagi untuk bermain-main seperti zaman sekolah dulu. Umur yang dirasa sudah matang untuk menemukan belahan jiwa yang bisa diajak untuk berlayar mengarungi kehidupan yang baru. Umur yang dirasa sudah matang untuk menentukan apakah belahan jiwa itu benar-benar akan terus menjadi partner seumur hidup.

Tidak mudah memang untuk menentukan hal serumit itu, dan tidak terlalu sulit juga kok untuk menemukan kecocokan-kecocokan yang ada. Jika sudah terbiasa berbicara bersama, toh pada akhirnya kenyamanan akan mudah ditemukan, dengan segala kemungkinan untuk menutup beberapa kekurangan. Klop, dan pada akhirnya sepakat untuk berlayar bersama.

Jika dirasa dia adalah orang yang cocok dan membuat kita selalu nyaman, maka datangilah ia dan keluarganya, terutama ayahnya atau walinya. Pasang mimik serius, dan lanjutkan sendiri kisahnya. Memang bukan hal yang mudah jika sudah sampai di tahap ini. Makanya, perbanyak doa dan usaha yang maksimal, biar segala kegugupan menjadi kekuatan. Ah, saya sudah tidak sanggup lagi meneruskan. Jujur, saya sendiri belum sampai pada tahap ini. Kenapa? Karena baru-baru ini sampai pada tahap menemui ibunya. Ayahnya? Belum.

Kalau tahap tetrakhir ini dirasa sudah lolos, maka selamat, struktur sayap yang kokoh sudah di depan mata, tinggal bagaimana mengelola dengan baik saja. Bagaimana? Sudah siapkah membuat struktur sayap yang kokoh untuk terbang melihat kehidupan indah dari atas?


"Ditulis dengan sepenuh sadar, bukan efek dari mabuk nasi telor."

17 October 2013

Ternodanya Kesakralan Kopi

Kopi itu minuman sakral, setidaknya buat para mahasiswa yang pernah merasakan padatnya tugas. Dia menjadi minuman wajib untuk menjaga mata agar tetap melek, anti kantuk, agar tidak tertidur sehari menjelang deadline. Nah takaran yang pas itu penting. Kalau mau melek banget, ya dibuat pekat banget. Kalau mau biasa aja, atau buat santai, ya bisa dibuat kasual aja. Itu selera masing-masing sih sebenarnya. Nah, bagaimana jika takarannya di luar logika dan berpotensi mengguncang dunia persilatan? Itulah yang saya alami beberapa bulan yang lalu.
Begini ceritanya:

Beberapa bulan yang lalu, saya mengajak dua sahabat saya untuk mengunjungi salah satu tempat makan di Jogja yang menyediakan pancake durian. Waktu itu beberapa hari menjelang pulang ke Balikpapan. Karena dilanda sakau yang parah oleh pancake durian, jadilah saya mengajak mereka untuk jadi teman ngobrol di saat makan.

Tiba waktu memesan. Saya pesan satu pancake durian dan satu kopi hitam. Oke pancake sudah tersaji, kopi pun sudah nongkrong di atas meja, lengkap dengan lepek dan sendok kecil. Sesaat kopi itu nangkring, saya bingung, bengong, dan seolah-olah tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Saya rasa yang pernah bikin kopi dan tahu takaran pasnya pasti langsung bengong juga. Di sana, terlihat sekali endapan kopi yang tipis, bagian atas airnya sedikit bening. Padahal, yang namanya kopi itu ya hitam, endapan tidak terlihat sama sekali. Lah ini? Terlihat!

Sontak saya terkejut, lalu teriak, "Mbak! Gimana sih ini! Kok kopinya bening!"
Hahaha jelas tidak lah, saya kan baik hati dan rajin menabung, mana tega bentak-bentak begitu.

Sontak saya terdiam, lalu berpikir, "Apa iya ini kopi?". Saat itu juga saya sruput sedikit, dan kalian tahu apa yang saya rasakan? Ya, benar, rasa air putih (dan sedikit sekali rasa kopi). Dan saat itu juga saya sedih, saya galau, hati saya menangis, mulut saya meringis merasakan apa yang dirasakan kopi itu. Kopi, yang dari awal diproses sempurna melalui pemetikan, penjemuran, penggorengan, dan penggilingan; mau tidak mau harus merasakan dibiarkan terlihat serbuknya di dasar, sudah berupa endapan pula. Miris, sadis, tidak berperike-kopi-an.

Cukup sudah penderitaan yang dialami kopi ini. Akhirnya saya paksakan untuk meneguknya sampai habis dengan perlahan agar si Mbak yang bikin kopi itu tidak merasakan penderitaan yang saya rasakan.

Itulah kopi, bubuknya sakral sebab dari pembuatannya yang berkelas. Sebagaimana hal yang berbau sakral, ia harus diperlakukan istimewa. Jangan sampai dikhianati oleh pembuatnya yang tidak mengerti apa-apa soal kenikmatan menyeduh dan meminum kopi.

nb: Mbak, lain kali bikin kopi yang bermartabat ya... :)

11 October 2013

Nostalji Kepala Dua

Beberapa hari yang lalu, ketika koneksi internet sedang memadai, kuota masih banyak, saya sempatkan waktu itu buat melihat kembali album foto lama, album foto semester-semester awal kuliah sampai tahun kedua. Sempat berpikir berat untuk segera memisahkan diri dari para kolega, menuju ke kehidupan yang lebih nyata, lengkap dengan orang-orang baru yang tentu sifat-sifatnya jauh berbeda dengan teman-teman lama.

Tapi itulah hidup, seperti yang teman saya pernah petuahkan. Dia berkata, "Begitulah hidup, cuma sekedar mampir di setiap tahapnya. Pas kamu dulu SD punya teman-teman yang seru, SMP punya teman-teman yang nakal, SMA punya teman-teman yang baik, sampai kuliah punya teman-teman yang heterogen tapi tidak kalah serunya. Jalani saja, di tiap tahap pasti ada kejutan baiknya. Jangan sedih, teman-teman baru di dunia kerja juga gak kalah serunya kok, nikmati aja."

Begitulah kurang lebih petuahnya. Itu salah satu petuah yang akan saya ingat betul sampai tua nanti, buat saya ceritakan ke anak-anak sampai cucu-cucu saya, yang mungkin saja akan mengalahkan serial HIMYM yang hanya 9 season, hehe.

Jadi, Kawan, nikmatilah setiap jenjang hidupmu, buatlah temanmu mengerti akan kehadiranmu, buatlah mereka merasakan betapa menyenangkannya dirimu. Begitu.

Selamat menempuh kehidupan baru dan nyata, Kawan!

06 September 2013

End Zone dan Friendzone

Adalah sebuah hal yang sangat jarang ketika saya kepikiran untuk membuat suatu artikel yang berhubungan dengan kehidupan romansa. Kenapa? Karena saya tipikal pria yang tidak terlalu memusingkan masalah ini. Memang saya akui tidak sepenuhnya saya tidak peduli, ada kalanya terlintas sedikit perihal romansa di dalam ruang otak saya, yang dengan seenaknya menyelinap di antara saraf-saraf penyusun memori ini.

Liar. Ya, begitulah cinta. Kadang muncul di saat kita sibuk mengejar mimpi. Ketika kita sibuk mengejar deadline skripsi, deadline laporan KP, deadline proyek, dan lain-lain. Belum lagi bisnis kecil-kecilan untuk sedikit menopang perekonomian pribadi untuk membeli sesuatu yang sangat kita inginkan tapi bingung dan malu ingin minta sama orang tua. Sudah cukuplah mereka kita repotkan dengan membayar SPP tiap semester, belum termasuk SKS, belum termasuk remidial. Sudah cukuplah mereka bersabar dengan kita yang berkapasitas biasa-biasa saja (dalam hal akademis) dan tidak kunjung lolos beasiswa karena kurangnya IPK minimum yang disyaratkan.

Loh mau kemana tulisan ini? Malah melanglang buana ke masalah akademis...

Jadi begini, saya ajak Anda ke dalam pikiran saya. Ayo kita pikirkan salah satu permainan olahraga yang keras, yang membutuhkan strategi yang sangat matang, yang membutuhkan pelindung yang komplit mulai dari helm sampai armor. Ya, benar. Itulah american football. Ingat, bukan rugby (entah sudah berapa kali saya menjelaskan ke khalayak kalau rugby dan american football itu jauh berbeda). Dan untuk memudahkan pembahasan selanjutnya, mari kita singkat american football menjadi football. Jauhkan dulu pikiran Anda dari sepak bola, karena tidak akan nyambung ke sana.

Insepsi kedua, apa yang ada di pikiran Anda ketika melihat dua orang pria dan wanita. Mari anggap saja pria yang di sana itu adalah teman Anda. Dan wanita yang di sana itu adalah teman Anda juga. Si pria ini tertarik dengan si wanita, sedangkan si wanita tidak sama sekali (nah loh!). Si wanita ini tidak tertarik tapi merasa begitu nyaman dengan si pria, yang pada akhirnya si pria jadi teman curhat (atau lebih kerasnya, dukun curhat). Ya, itulah namanya friendzone, istilah yang sangat populer akhir-akhir ini. Entah siapa yang mempopulerkan pertama kali.

Sekedar info (ini random), pria dan wanita itu selamanya tidak akan bisa menjadi murni teman kecuali mereka saling mematikan daya tarik. Dan tidak akan bisa menjadi sahabat dekat kecuali... tidak perlu saya teruskan, silahkan pikir sendiri. Ingin tahu lebih lanjut silahkan googling. Ada berbagai link yang menuju ke riset yang bersangkutan.

Nah, sudah dua insepsi yang saya masukkan. Sekarang mari kita olah. Di football, lapangan terdiri dari berbagai garis-garis yang banyak, kompleks pula. Biar jelas, lihat gambar di bawah ini:


Fokuskan pandangan Anda ke end zone (area hijau tua), zona akhir di mana jika bola dibawa ke area itu, maka akan menghasilkan 6 poin. Nah, perjalanan menuju ke sana itu susah, ya kadang gampang, tergantung strategi offense. Tergantung strategi dari defense juga. Jadi saling tergantung, banyak faktor memengaruhi.

Dari situ maju terus dan terus maju, dan akhirnya sampai mendekati garis end zone. Nah inilah fase krusial, di mana defense akan semakin memperketat penjagaan mereka seketat-ketatnya. Hal inilah yang sangat menyulitkan tim offense untuk menyerang. Dengan kata lain, sulit ditembus. Meski sulit, dengan strategi yang matang maka zona itu dengan mudah saja dilewati, begitu.

Lalu, apa hubungannya dengan insepsi kedua? Mudah saja. Bagaimana sekiranya kalau pria dan wanita yang saya sebutkan di atas terjebak di friendzone? Ya, sulit ditembus. Inilah benteng pertahanan terakhir yang paling krusial. Terserah kita mau melakukan apa di sana, yang jelas kalau kata orang sih ini sudah mati alias dead end. Tetapi, sulit ditembus bukan berarti tidak bisa ditembus. Seperti yang saya bilang di end zone di atas, dengan strategi yang matang, zona itu bisa kita lalui saja dengan mudah kok. Cuma butuh pengorbanan, entah mau seperti apa. Salah satunya berhenti menjadi dukun curhat, menjauh perlahan, dan kembali lagi untuk kembali menawarkan hal lain yang menuju ke lebih dari teman tentunya. Seperti apa caranya? Silahkan pikirkan sendiri, saya tidak akan menjelaskan lebih lanjut. Biarkan kreatifitas Anda yang memecahkannya.

Jadi, itulah perumpamaan friendzone menurut end zone dalam american football. Salam olahraga!


28 May 2013

Gunung Bromo yang Katanya Gunung (Bagian II)

"Ah, aku bosan.", gumamku dalam hati. Perjalanan panjang yang akan memakan waktu hingga 8 jam. Kereta baru berangkat pun sudah tergambar di ruang masa depan bagaimana nantinya. Suara gaduh lokomotif, suara gaduh gerakan mengular kereta, suara para pedagang asongan yang bisa kapan saja membangunkanku di saat terlelap.
Maklum saja, kami menuju Probolinggo dengan kelas ekonomi. Kelas ekonomi bisa dibilang adalah kasta terendah dalam kancah per-kereta api-an. Bagaimana ada pembagian kasta kalau kita menuntut kesetaraan?
Jawabannya simpel, pembagian kasta untuk memenuhi kemampuan membeli dari berbagai lapisan masyarakat. Untuk ekonomi, sebagian besar dihuni oleh mahasiswa yang ingin pulang kampung, turis asing maupun domestik yang ingin menghemat pengeluaran transportasi, serta keluarga menengah ke bawah yang terkadang menggunakan lorong sebagai tempat tidur.
Ah, ekonomi, kau potret dari betapa senjangnya jarak si kaya dan si miskin.

Gambaran dari pikiran liar ruang masa depan ternyata tidak hanya isapan jempol kaki. Dengan kata lain, itu semua benar-benar terjadi di sepanjang perjalanan, nonstop, ya nonstop, paling tidak ada jeda sekian menit saja. Apalah artinya jeda sekian menit jika tidak memuaskan. Jeda yang terbilang pendek itu sedikit membuat tidak nyaman, sekaligus mengganggu akibat dari nakalnya kursi yang sudutnya tidak bisa diubah sama sekali.
Ah, ekonomi, kau potret dari betapa harga yang murah memang membayar semua ketidaknyamanan itu.

Sepanjang perjalanan memandang kanan kiri yang dihiasi oleh pemandangan yang biasa saja: sawah, hutan, rumah huni pinggir jalan beserta jemurannya, anak kecil berlari mengejar temannya, tiang listrik yang kaku, palang pembatas perlintasan yang kadang tidak dipatuhi oleh pengguna kendaraan, dan masih banyak lagi realita masyarakat kita yang rasa-rasanya sudah penuh sesak saling bertetangga.

Memandang lagi ke depan, seorang ibu dari Jombang (yang saya tahu dari obrolan singkat dan tidak bermakna sama sekali) yang sepertinya ingin pulang ke kampung halamannya.
Sembari tersenyum dia menawarkan sedikit makanan kepada kami bertiga. Dan bisa ditebak betapa sok jual mahalnya kami. Dengan tidak tegas dan malu-malu, kami menolak pemberiannya karena masih ada bekal kami yang belum dimakan. Alang-alang mubazir padahal pengen. Ah, menjaga imej memang berat, status mahasiswa sopan dan baik hati masih berhasil kami pegang dengan sedikit terbuka di sela-sela jemari.

Memandang ke belakang, tidak apa-apa selain sandaran kursi sudutnya konstan, statis, bikin pegal punggung. Lalu sedikit melirik ke bagian ke kanan, ada beberapa keluarga yang sedang asyik membicarakan sesuatu, entah tentang politik, gaya hidup, atau malahan sekedar mendiskusikan besok mau makan apa. Sedih. Sedikit.

Memandang ke atas, sedikit ke kanan, tasku terbaring mantap dengan nyenyaknya. Ia tidak bergoyang sedikitpun. Ia terhimpit di antara dua tas besar yang nakal, genit menyentuh bagian samping tasku.
Ia adalah ransel yang sudah sekian tahun menemani masa studiku di UGM selama 3 tahun lebih sedikit. Tas yang luar biasa awet, tidak ada robek sedikitpun. Segaka puji bagi Allah, Tuhan semesta alam yang menciptakan ilmu pengetahuan sehingga ditemukanlah suatu metode menjahit yang sempurna.
Terima kasih juga kepada seluruh penjahit tas di seluruh dunia. "Kalian luar biasa!", begitu kata Ariel NOAH.

Memandang kemanapun bosan, kecuali memandang ke kanan. Mereka teman perjalananku. Ya, siapa lagi kalau bukan manusia. Manusia yang bisa diajak ngobrol, bercerita tentang apapun kecuali tanggal ulang tahun, haha.
Banyak hal yang kami obrolkan yang tidak perlu kalian (para pembaca) tahu. Cukup kami dan beberapa saksi bisu.
Tapi sayangnya obrolan itu sebentar saja sebelum pada akhirnya angin dari luar berhembus menyapu semua keramaian di dalam menjadi sebuah suara turbulensi angin. Turbulensi sepoinya menghanyutkan, membuat kami ingin tidur.
Dan pada akhirnya tidurlah mereka dan aku masih terjaga. Masih membuka mata, menerawang masa lalu dan sedikit rencana di masa depan: skripsi. Seketika aku jengkel mikirnya.

Sekian jam melamun dengan sedikit tidur ringan. Sambil mendengarkan lagu-lagu dari film "Les Miserables", "Inception", dan "Petualangan Sherina". Syukurlah aku tak sendiri, masih ada HP dengan internetnya untuk menyaring informasi dan hiburan musik sederhananya.

Sekian jam terus berlalu sampai tiba saatnya menuju stasiun di Surabaya (lupa namanya). Dengan mata yang sedikit sepet karena cuma tidur sebentar, ditambah angin deras mengguyur mata menjadikan sepet kian menjadi. Ya, kami tiba di Surabaya.
Itu artinya beberapa jam lagi tiba di Probolinggo, tujuan final kami.

Bersambung...

21 February 2013

Gunung Bromo yang Katanya Gunung (Bagian I)

Liburan semester ganjil sudah lewat, menyisakan sedikit sekali cerita yang bisa dibanggakan, kebanyakan adalah cerita klise dimana saya menghabiskan waktu di kos: nonton film, main game, browsing, baca buku, sesekali mengintip televisi (sebenarnya tidak ada manfaatnya), potong kuku, makan, dan memikirkan dia (yang belum tentu mikirin saya).

Tapi cerita klise itu akhirnya ditepis oleh ajakan jalan dari dua teman saya. Mereka berencana pergi liburan ke Gunung Bromo. "Hmmm sepertinya asik", begitu pikiran saya berbicara waktu itu. Dan seketika itu juga saya langsung melihat saldo tabungan, dan saya rasa cukup buat ke sana, sip lah.

Sebenarnya rencana ini dadakan, banget malahan. Bayangkan deh, rencana jalannya baru ada hari Rabu, sementara berangkatnya hari Sabtu. Luar biasa mendadak bukan?
Untung saja karena seringnya saya bepergian jauh, rencana plesir mendadak bukanlah halangan (tsaaah).

Tapi... ada beberapa masalah sih, seperti rute yang harus dilewati, penginapan di sana, apalagi kami hanya bertiga. Sebenarnya sudah mengajak beberapa teman, tapi sebagian besar tidak bisa, dengan alasan budget, padahal ya kalau ramai kan harga bisa ditekan. Ya jadilah kami hanya bertiga ke sana.

Hari keberangkatan semakin dekat, tiket belum dipesan, padahal sudah sehari sebelum cabut. Tapi karena tujuan kami ke Probolinggo dan bertepatan dengan waktu yang relatif sepi penumpang, akhirnya kami berasumsi bisa mendapatkan tiket di stasiun satu jam sebelum kereta berangkat. Okesip, satu masalah selesai. Check!

Masih sehari sebelum berangkat, malamnya, ketika saya sedang makan malam bareng teman-teman SMA, salah satu rekan saya mengirim pesan singkat yang berisi, "Ko, dah packing belum? Bawa apa aja?".
Well saya pastikan rekan saya satu ini jarang jalan jauh, packing aja nanya bawa apa aja. Oke gak papa, karena saya kurang tega melihat penderitaan seseorang, ya sudahlah saya SMS rinci apa-apa aja yang perlu dibawa. Okesip, satu masalah (teman) saya kelar. Check!

Akhirnya tiba waktunya untuk cabut! Hari itu hari Sabtu, rencana mau naik kereta yang berangkat jam 9. Jadi sudah harus tiba di stasiun jam 7.
Karena harus sepagi itu di stasiun, ba'da Subuh saya langsung mandi. Packing, gila kan baru packing pagi-pagi. Tapi gak masalah sih packing mendadak, sudah sering (sombong). Habis packing, saya langsung cabut buat jemput teman saya dulu di asramanya.
Tapi... luar biasa Bung... Yang namanya jam karet berlaku di mana-mana. Ya gimana gak ngaret ya 'kan, wong jam 7 sudah harus di sana. Kepagian Mak! -_-"
Saya sih ngaret sedikit aja (pembelaan), cuma telat 5 menit. Pihak yang dijemput memaksa saya untuk menunggu selama hampir 10 menit. Jadilah kami berangkat ke stasiun pukul 07:15 dan sampai di Lempuyangan pukul 07:30.

Sesampainya di stasiun, langsung parkir motor buat nginep di sana selama 2 hari. Lalu menuju ke lobi untuk beli tiket. Sesampainya di sana ada masalah baru lagi, satu teman lagi belum datang. Seperti yang pernah saya bilang, ngaret berlaku bagi siapa saja. Jadilah kami berdua menunggu sekitar 15 menit.

Tik tok tik tok, 15 menit berlalu dan datanglah dia. Kami pun bergegas ke loket, dan apa yang terjadi? Dia lupa bawa kartu identitas, haish... Jadilah ia meminjam motor saya untuk ke kosnya. Saya pun menunggu sekitar 8 menit, ditemani koran Kompas yang sengaja saya beli, mumpung murah, di stasiun cuma Rp 2.000,-. Waktu itu lagi seru-serunya berita tentang konspirasi sapi PKS, prahara PKS, tobat nasional PKS. Semua berbau PKS lah pokoknya. Kasihan partai sebersih ini (insya Allah) jadi bulan-bulanan media. Loh kok jadi ngomongin partai? Santai, intermezzo.

Fiuh akhirnya datanglah si telat itu, kami pun ke loket dan berhasil membeli 3 buah tiket tujuan Probolinggo, berangkat pukul 09:10. Sembari menunggu kereta datang, alangkah baiknya mengisi perut dulu di dalam peron. Saya cuma minum teh, soalnya sudah sarapan di kos.
Acara makan dan minum itu kami habiskan dengan berbicara mengenai hiruk pikuk dunia politik saat ini (bohong banget, aslinya kami sedang nyinyir).

Bla bla bla teeeeeet, akhirnya keretanya datang! Kami langsung memposisikan pantat kami di dalam kereta ekonomi itu. Duduk bertiga berhadapan, dan ada satu ibu-ibu yang tidak kami kenal. Awkward... wusss...

Bersambung... :v

18 January 2013

Galau Finansial

Keadaan keuangan merupakan situasi yang amat sangat penting dalam kehidupan mahasiswa. Saking pentingnya, kita tidak bisa hidup tanpanya.
Namun apa jadinya jika keuangan mengalami kegalauan?
Sepertinya saya sedang mengalaminya. Di saat kebutuhan banyak, di saat itulah dia datang menghampiri, tidak terduga.

Ada beberapa hal yang membuat saya mengalami galau finansial. Berikut penuturan langsung dari penulis.

Satu hal yang mungkin dianggap tidak penting bagi sebagian orang, saat ini saya ngidam miniatur kapal Going Merry.

Gambar miniatur kapal Going Merry
Tidak hanya itu, ada lagi barang yang ingin saya beli, dan statusnya sangat penting, alias harus punya!
Itu adalah sarung tangan khusus receiver, yang biasa dipakai oleh atlet NFL untuk menangkap bola.
Kenapa sangat penting? Karena saya akhir-akhir ini berulang kali mengalami cedera jempol, salah satu resiko penangkap bola dalam flag football. Cedera jempol yang dominan adalah terkilir, biasanya baru akan sembuh dalam beberapa hari. Tidak terlalu sakit sih, cuma kurang nyaman saja kalau beraktivitas.
Itulah mengapa saya sangat membutuhkan sarung tangan itu. Dalam waktu cepat harus punya. Lagi-lagi ini membuat saya dilema.

Satu lagi, dan yang terpenting, dalam waktu dekat saya diajak berkeliling setengah Pulau Jawa. Oke agak berlebihan, sebetulnya tidak sampai setengah juga, seperempat juga belum. Maksudnya setengah Pulau Jawa ya pelesir dari Cilacap, Malang, dan Situbondo. Jika dalam satu titik di tiap kota kita buat radius khayalan sekitar ratusan kilometer, mungkin bisa saja setengah Pulau Jawa kita jamahi.
Pelesir sebenarnya bukan bermaksud apa-apa, hanya untuk bersenang-senang sambil menikmati keindahan Indonesia (tsaaah, lagi bijak).

Apa lagi? Sebenarnya hanya itu yang membuat saya dilema bukan kepalang. Entah kenapa dilema lebih saya suka struktur kalimatnya ketimbang galau. Ya maklum saja ya, saya kan tumbuh di tahun '90-an.

Dan pada akhirnya dari kesemua hal di atas, sepertinya sulit untuk menentukan mana yang akan jadi prioritas. Biarkan saya yang menjawab.

Lagi malas nulis :v

09 January 2013

Individu yang 'Kuat'

Kita semua dilahirkan sendiri, tapi ketika sudah mencapai usia yang bisa dibilang agak dewasa, kita tidak bisa hidup sendiri. Karena manusia adalah makhluk sosial (dari matkul Kewarganegaraan) maka kita senantiasa membutuhkan orang-orang di sekitar kita, mulai dari orang tua, saudara, teman, dosen, atau siapapun itu (?).
Semua orang di sekitar kita, pasti memiliki karakter masing-masing, dan ada saja di antara mereka terdapat beberapa orang yang kuat. Kuat di sini bukan secara bahasa, melainkan secara istilah.
Kuat secara bahasa bisa dilihat dari fisik, dia kuat, dia kekar, dia bisa mengangkat beban yang berat (saya banget nih). Oke itu cuma bercanda...
Nah kuat secara istilah bisa dikaitkan dengan masalah hati. Ya hati, lebih spesifik, masalah cinta. Mungkin bisa ditafsirkan sendiri tanpa bimbingan saya. Terlalu menyakitkan kalau menjelaskannya (halah!).
Jadi kuat itu adalah ketahanan suatu benda untuk menerima beban yang ditekankan kepadanya, dalam satuan kN biasanya. Loh kenapa jadi matematis begini? Oh maklum, saya anak teknik soalnya. Problem? :v

Ngomong-ngomong, jarang-jarang saya membahas masalah ini. Saya dikenal sebagai orang yang cuek sebenarnya. Tapi tidak akhir-akhir ini. Mungkin akibat dari pertambahan usia, yang semakin hari semakin tua saja. Dan semakin memikirkan masa depan yang banyak ditanyakan oleh banyak orang.

Kembali ke inti masalah...
Jadi orang-orang kuat itu luar biasa di mata saya. Mereka senantiasa menahan rasa sakit yang tak tertahankan (serasa iklan Panad*l). Dan pada akhirnya (untuk menyingkat waktu) saya nobatkan predikat orang kuat kepada mereka yang jatuh cinta dalam diam (tsaaah).
Mereka ini hebat, mereka begitu kuat menahan suatu perasaan, tidak pernah mengungkapkannya padahal ingin sekali. Mungkin karena takut tidak bisa mempertanggungjawabkan perasaan itu, atau mungkin juga bingung apa memang sesuka itu, atau jangan-jangan perasaan itu cuma sekelebat efek dari keegoisan masa puber kedua.
Sebenarnya saya tahu mereka ini seperti apa maunya. Kenapa saya tahu? Ya karena saya juga pernah mengalaminya.

Untuk lebih jelasnya saya beri contoh saja ya, yang simpel, dan seperti biasa fiktif.

Jadi begini, ada orang namanya A. Nah si A ini suka sama seseorang begitu, sebut saja orang yang dia suka dengan nama B. A dan B ini jarang bertemu, tapi si A suka mengamati si B secara diam-diam (cieee).
Mau mendekati entah kenapa dag dig dug mendominasi, akhirnya tidak jadi menegur dan mengajak berkenalan. Begitu terus setiap hari, dan selalu kejadian itu yang terulang, kejadian di mana si A mengamati si B dalam diam. Selalu... begitu, sampai si narator bisan menunggunya.
Nah kejadian itu berulang kali terjadi selama beberapa bulan, sampai akhirnya si A dan B ini sekelas. Entah takdir entah apa, yang jelas ini semau saya, toh saya yang bikin cerita (egois).
Si A, tentu saja tanpa disuruh untuk bergembira, sudah mencak-mencak sendiri, berteriak dalam hati, "Inilah kesempatanku."
Dan apa yang terjadi... Yak, benar, si A belum berani untuk mengajak berkenalan. Dan itu (lagi-lagi) berlangsung beberapa bulan.
"Ah si A ini payah ya, mau kenalan aja susahnya minta ampun.", kata pembaca seraya menatap sinis, dan kata teman dekatnya (sambil menatap meremehkan juga).
Ah tapi tidak ada yang bisa disalahkan di sini. Bagaimanapun yang namanya jantung berdegup lebih kencang itu kerap mengalahkan segalanya, termasuk keberanian. Awalnya sudah mantap ingin menegur duluan, eh lagi-lagi jantung mendominasi. Ya Kawan, jantung itu egois, dia selalu mengambil alih segala keberanian kita. Oh iya, sebenarnya bukan jantung sih, tapi lebih ke hormon insulin. Entah itu hormon apa, yang jelas dia bertanggung jawab dengan segala dag dig dug yang pernah kita alami, dialah yang memacu adrenalin untuk berpacu lebih cepat, mengalahkan keberanian tuannya. Kejam memang, tapi kita tidak bisa menyalahkan hormon juga, bagaimanapun dia tak pernah salah. Toh dia ciptaan Tuhan, dosa loh kalau menyalahkan ciptaan Tuhan itu secara sembarangan, bahaya (bijak).

Karena selalu dag dig dug itulah, si A curhat (tsaaah) ke teman dekatnya yang kebetulan dekat dengan si B. Yap, takdir selalu berpihak pada orang yang berharap (tidak selalu sebenarnya). Tanpa dinyanapun di A sudah punya inisiatif untuk dikenalkan ke si B.
Oh iya, kita sebut saja teman dekatnya si A dengan nama C. Semoga bermanfaat (?).

Time slip... Si A akhirnya sudah kenal dengan si B. Terima kasih buat si C yang mau dengan terpaksa membantu proses cerita. Sekali lagi terima kasih.

Waktu terus bergulir, sejalan dengan bertambah dekatnya mereka (si A dan si B). Si C turut senang. Bagaimana tidak? Si C akhirnya tidak direpotkan oleh si A lagi. Si C senang sekaligus tenang.
Eh tapi, kedekatan si A dan si B ini hanya sebatas teman, tidak lebih, selebihnya cuma teman kelompok tugas. Tidak lebih, selebihnya cuma teman makan, itupun bareng yang lain. Tidak lebih, selebihnya cuma teman pulang, itupun (lagi-lagi) bareng teman-teman yang lain.
Segala tidak lebih, karena memang tidak ada yang lebih di antara mereka.

Selebihnya adalah, bersambung...

04 December 2012

Masa Kurang Teknologi

Masa kurang teknologi, dimana kita masih belum dikuasai keegoisan teknologi. Ah kalau ingat masa itu, jadi kangen masa kecil, masa SD kurang lebih, karena SMP sudah mulai menggunakan handphone.
Kali ini saya mau membahas hal ringan saja, kali ini saya mau ngajak kalian kembali ke masa lalu, terutama yang masa kecilnya sekitar tahun 1997 sampai 2003.

Masa SD, masa dimana cinta monyet mulai berkeliaran, korban sinetron semua. Untungnya itu tidak berlaku di saya. Saya sih paling banter naksir terus bilang suka, gak lebih, gak sampai pacaran gitu. Paling mentok ya itu, yang saya bilang, sampai bilang suka, titik.
Tapi kalau diingat sih seru juga waktu itu, ah jadi cerita sedikit kan ya. Saya ceritakan secara universal deh, pokoknya masa itu pada ngejar cewek sama aja caranya, klise banget lah.

Masa SD itu, biasa pada klise buat menarik hati cewek yang ditaksirnya, ya misal dengan gangguin dia dulu lah, godain sampai nangis (ini favorit saya), ganti model rambut, pakai parfum murah, dan pilihan terakhir yaitu menjadi badass. Dan yang paling berhasil adalah pilihan terakhir itu, percaya tidak percaya para badass itu biasanya sudah pada punya pasangan. Kalau saya sih tipe pendiam gitu (silahkan kalau tidak percaya), makanya waktu SD ya saya cupu. Ya meskipun cupu ada aja yang mau, sayangnya saya gak kepikiran sama sekali untuk pacaran loh, ya saya anggap itu dulu gak penting.

Nah, cara supaya dekat dengan si gebetan ini macam-macam. Dulu itu gak ada namanya HP, masih belum umum, pokoknya HP dulu masih terbilang mewah lah. Karena keterbatasan teknologi itulah, sebagian ada yang berkunjung langsung ke rumahnya buat belajar bareng, bahasa sekarang sih namanya modus kalau begitu.
Selain itu, ada juga yang nekat nelpon rumahnya. Cara dapat nomor telpon rumahnya? Simpel sih, gunakanlah buku telpon, tapi sebelumnya harus tahu nama bapaknya dulu, haha.
Yang seru itu kalau pakai surat-surat cinta gitu. Pokoknya itu paling wah lah, cuma kurang gentle sih menurut saya :p

Ya mungkin cuma ketiga cara itu yang klise di masanya, masa dimana HP belum mendominasi, apalagi facebook dan twitter.

02 December 2012

Memang Banyak yang Lebih Baik

Banyak hal-hal baik di sekitar kita. Pun hal-hal buruk. Keduanya membentuk keseimbangan, serasi, menarik untuk diikuti.
Banyaknya pilihan itu, harus didukung oleh pemikiran matang, mau kemana kita melangkah, ke hal baik atau hal buruk. Itu pilihan sendiri, dan kita yang berkonsekuensi atas pilihan itu.

Ngomong-ngomong soal baik dan buruk, sifat manusia pun terbagi atas mereka. Ada yang dominan di sisi baik, ada pula yang dominan di sisi buruk. Keduanya belum tentu mutlak atas seseorang, kebanyakan seseorang yang memutlakkan diri atas hal baik dan buruk itu. Seperti yang saya katakan di bait pertama, konsekuensi ada di diri kita, sebesar apapun, sekecil apapun.

Mengerucut menjadi ke sifat baik, saya ingin bercerita soal kecenderungan seorang pria tertarik kepada wanita yang berbudi pekerti baik. Bagi saya itu lumrah saja, karena seburuk apapun sifat seorang pria, dia (biasanya) akan tertarik kepada wanita yang baik. Pun sebaliknya.
Tetapi ketika seorang pria menyukai (atau mencintai; atau jatuh cinta) wanita yang menurutnya baik, ada saja teman yang tidak setuju, walau sebagian besar setuju. Dan biasanya, percayalah, yang tidak setuju ini adalah teman baik, bahkan teman terbaik, karena mereka tahu persis apa yang pantas bagi pria itu. Ingat, seorang teman itu adalah penilai terbaik, jangan meremehkan mereka, karena mereka bisa melihat apa yang tidak bisa dilihat, dalam hal ini masalah hati.
Kenapa seorang teman bisa melihat sesuatu yang tidak terlihat itu?
Simpel saja, seorang pria yang jatuh cinta biasanya dibutakan oleh satu hal yang dia suka. Karena buta itulah maka hal kecil yang lain jadi tidak terlihat. Jujur saja, kita semua pasti pernah mengalami ini.
Tetapi... gak semua orang jatuh cinta itu buta kok. Bisa saja si pria ini malah melihat sisi lain dari si wanita yang disukainya, dimana si teman mungkin tidak melihat itu.

Langsung ke contoh kasus saja...
Jadi begini, ada pria yang jatuh cinta dengan wanita. Mereka memiliki banyak perbedaan, banyak sekali. Salah satunya, jenis kelamin (ya jelas, masa jenis kelamin mau sama?).
Karena banyaknya perbedaan itu, si teman menasihati si pria kalau yang lebih baik dari wanita itu banyak.
Memang banyak, tapi si pria jelas tak mau kalah. Dia mengakui kalau yang lebih baik banyak, tapi dia bersikeras kalau yang seperti wanita itu tidak banyak.
Ya, begitulah contoh kasusnya.
Anti klimaks? Memang. Soalnya saya sudah lupa mau nulis apa barusan :D

"Yang lebih baik banyak, tapi yang seperti dia tidak banyak."
--Siapa.

26 November 2012

Lazy Sunday

Minggu kemarin, tepatnya 26 Nopember 2012, saya mengalami hari dimana tidak ada produktifitas sama sekali. Bayangkan, dari setelah sholat Shubuh, tidur, lalu bangun dan nonton film di notebook. Tidak lama kemudian ngantuk lagi, lalu tidur lagi. Monoton.

Seharusnya Minggu pagi itu ada latihan flag football, tapi berhubung kaki saya mengalami "muscle soreness" akhirnya tidak ikut latihan. Sakit loh, kaki terasa jenuh begitu otot-ototnya, dipakai untuk berjalan kaki saja tidak enak. Miris.

Ketika hari sudah siang, kaki saya sudah sembuh, jadi maunya sih jalan-jalan begitu, sendirian. Iya, sendirian. Tolong jangan sedih mendengarnya, soalnya saya biasa saja. Karena sendirian adalah satu proses dalam menemukan jati diri. Ngomong-ngomong, saya jadi ingat nonton Batman sendirian di XXI waktu KKN. Bela-belain pulang ke Jogja cuma buat nonton. Tragis.

Sampai sore hari pun saya masih belum melakukan kegiatan yang produktif. Sepanjang hari di kamar cuma nonton dan nonton. Sesekali membaca informasi bermanfaat. Dilanjutkan dengan bermain game. Begitu terus sampai Maghrib. Pemalas.

Apa yang saya lakukan ba'da maghrib? Tidak ada yang spesial. Hanya tidur... Sepi.
Dan baru bangun sekitar pukul 21:30. Parah ya, tidur selama itu. Parahnya lagi, tidurnya saya lanjutkan sampai 23.15. Tragis ya. Hibernasi.

Setelah bangun tidur? Lanjut menonton. Luar biasa pemalas saya pada hari itu. Hari tergelap dalam sepekan. Langitpun menjadi gelap karenanya (jelas, sudah malam begitu).

Tidak ada yang lebih tepat untuk menggambarkan keadaan di atas selain lagu dari Green Day, dengan judul Lazy Bones. Ya namanya manusia, ada saat dimana sangat butuh yang namanya kesendirian. Sendiri untuk bermalas-malasan, berusaha menghilangkan kepenatan, berusaha untuk menyegarkan diri. Tapi terkadang kesendirian adalah salah satu cara untuk melupakan sejenak hal-hal yang selama ini selalu dikejar, entah itu seseorang atau sesuatu. Fleksibel.

"Tidak ada kutipan untuk hari ini."
--Tiko, ketika malas mengutip.

23 November 2012

Tipikal Anak Teknik

Tulisan ini hanya iseng, untuk mengisi waktu luang menjelang Jumatan. Daripada gak jelas mikirin seseorang yang belum tentu mikirin kita, lebih baik menulis :v

Langsung saja, jadi begini...
Anak teknik itu (cowok) modenya biasanya sudah di-setting default: rambut acakan, kulit hitam, mata berkantung, badan atletis, dan kebanyakan masih single di semester 7 :v
Oke jangan sakit hati ya yang merasa klop banget di setting terakhir, yang semester 7. Pffft.
Saking umumnya settingan default ini, orang dari manapun bisa langsung menebak kalau itu (salah satu ciri default setting) adalah tipikal anak teknik.
Oke memang tidak semua cowok seperti itu settingan defaultnya, tapi terima saja persepsi umum ini, sudah menjadi rahasia umum, tidak perlu diperdebatkan apalagi dilaporkan ke Komnas HAM, bisa ribet ntar.
Jadi bagaimana orang luar teknik bisa menebak kalau kita (dalam hal ini, saya) adalah anak teknik?
Mari simak percakapan singkat berikut ini:

S adalah saya, dan T adalah teman saya.
T: Eh Ko, kamu itu sebenarnya jurusan apa sih?
S: Hmmm psikologi :)
T: Ah masa, gak percaya aku.
--Tuh kan, baru bohong sekali saja sudah hampir ketahuan. Darimana coba dia tahu kalau saya bukan dari psikologi. Lanjut:
S: Ah aku bohong, yang benar ekonomi :D
T: Ah masa! Aku itu tahu kamu anak teknik, kelihatan dari bentukanmu...
S: Errr iya :| Saya teknik sipil.

Dari percakapan singkat di atas, sudah jelas bahwa orang dari manapun langsung bisa menebak kalau saya anak teknik, entah dia melihat dari sisi mana, mungkin saja dari kulit hitam dan badan atletis (ini bohong). Hitam tidak sekedar hitam, tapi hitam lebih ke batubara, alias hitam dari mengerjakan proyek.

Habis Jumatan, ya dan saya hampir lupa untuk melanjutkannya. Jadi kita tarik kesimpulan saja.
Kurang lebih begini, kita sebagai anak teknik itu punya ciri khas (sudah saya sebutkan di atas), dan sekali lagi, kalau ada unsur yang memang 'anda banget', jangan salahkan saya, salahkanlah persepsi umum masyarakat tentang kita, mahasiswa istimewa fakultas teknik.

"Teknik itu bukan sekedar jurusan dalam universitas, tapi lebih kepada suatu usaha untuk menerapkan ilmu murni dalam kehidupan. Satu lagi, (katanya) mahasiswa fakultas teknik adalah andalan calon mertua."
-Tiko, diambil dari berbagai sumber dan diubah semaunya.

nb: jangan terlena dengan kutipan di akhir tulisan, melenakan, khawatir masuk ke dalam delusi.

13 November 2012

Menarik, Cuek, Tantangan!

Kebiasaan memang, draft sebelumnya saja belum saya publish, eh sudah buat postingan baru, dasar. Ah itu memang sifat dasar saya, selalu cepat bosan akan satu hal! Maklum saja, akhir-akhir ini saya tidak bisa diam, kesana kemari mencari posisi yang pas untuk memantaskan diri, memastikan peran pribadi di dalam kancah kehidupan. Mencari peran itu tidak mudah, butuh perjuangan lebih, apalagi sudah tahun keempat dan  tak kunjung menemukan partner buat diajak poto wisuda bareng (eh malah curhat). Ehm!

Sekian monolog yang agak sedikit egois di atas. Sengaja memberikan prolog yang seperti itu agar dikira pintar (bercanda).

Menarik memang kalau kita membahas sesuatu yang bisa dibilang sulit untuk diraih, bahkan didekati pun terkesan selalu menjauh. Hanya kesan kok, tidak sampai berefek ke fakta. Santai.
Ini kejadian pasca KKN (Kerja Kontrak Nyata?), dimana sifat saya agak berubah (banyak yang bilang begitu), tulisan saya berubah (saya menyadari sendiri, ada juga yang bilang begitu).
Sifat yang berubah itu salah satunya adalah cuek. Percaya atau tidak (percayalah), saya dulu itu cuek sekali, terutama masalah penampilan, rambut tidak pernah disisir, kumis tidak pernah dicukur kecuali digunting sedikit. Jadi sebelum KKN itu rambut saya gondrong sekali sampai mekar-mekar seperti singa, kumis lebat, bisa dibayangkan kalau style saya waktu itu seniman sekali.
Setelah KKN?
Cerita sedikit ketika pertengahan KKN, saya memutuskan untuk memangkas rambut saya di pangkas rambut Madura, seketika pun kerapian saya meningkat drastis. Yah lumayan lah anak-anak SD yang cewek jadi demen sama saya (daripada gak ada). For your info, ada satu anak SD yang ngefans sama saya, entah dia kesambet demit apa sampe segitunya.
Oke kembali ke akar cerita, saya pangkas rambut itu bukan sepenuhnya keinginan pribadi, melainkan karena ada yang risih berat lihat rambut gondrong saya melambai-lambai, yang mungkin bisa bikin gatal kalau kena kulit. Akhirnya saya pangkas dengan terpaksa...
Kalau kumis? Saya rajin mencukurnya ketika selesai KKN, itupun karena risih berat. Risih karena kalau minum kopi, ampasnya nempel di kumis. Maklum, saya penggila kopi hitam berampas macam Kapal Api. Karena menurut saya, kopi ampas itu laki!
Kumis dan rambut, dua hal krusial yang berubah pasca KKN. Bisa dibilang sifat cuek akan penampilan itu hilang karena ya KKN ini, itulah kenapa saya bilang KKN berguna sekali.
Entah apa kata ibu saya ketika melihat saya rajin pangkas rambut dan kumis, semoga beliau bangga!

Tulisan yang berubah rasanya tidak perlu saya ulas. Silahkan saja scroll  ke belakang, postingan saya tahun 2009, 2010, sampai 2011. Jangan tertawa ya membacanya, saya sendiri agak tersenyum kecil kok, jadi ingat masih cupu banget soal tulis menulis. Sekarang masih banyak belajar, semoga semakin meningkat ke depannya. Karena esensi kehidupan adalah terus belajar dan memperbaiki diri.

Lalu, kenapa judulnya ada kata "Tantangan!"?
Nah, itu saya bahas lain kali saja. Saya mau lanjut mengerjakan tugas yang sedikit terbengkalai. Sebenarnya tulisan ini untuk menghilangkan rasa penat saja sih, tidak lebih.
Sekedar hiburan, dan tulisan ini dibuat ketika masih dalam keadaan waras, tidak terganggu oleh penyakit mental apapun.

"Chase your passion like you're chasing your crush. Trust me it's work."
--Tiko, kutipan ini dipikirkan dalam kondisi setengah tegang.

14 October 2012

Sesuatu yang Terbawa Mimpi

Sebetulnya saya mau melanjutkan cerita kemarin yang mengenai si dia. Tapi karena lagi males berhubung cuaca panas akhirnya saya putuskan membuat cerita baru saja dulu. Mumpung masih ingat kronologinya, kalau sudah lupa rempong ntar :D
Jadi ceritanya saya mau berkisah tentang mimpi saya tadi siang barusan, tidur sekitar pukul 11:00-13:00, cukup panjang, bangun-bangun langsung mumet terus minum kopi biar sembuh :D

Oke saya akan mulai ceritanya. Jadi saya ini tidur dan bangun-bangun saya bermimpi, hehehe asiiik :D
Jarang-jarang nih sadar di dalam mimpi, akhir-akhir ini skill saya dalam mengendalikan mimpi semakin turun soalnya. Hal itu disebabkan oleh kesibukan jadi tidak ada waktu buat latihan mengukir mimpi (halah).
Kembali ke topik, jadi ketika bangun di mimpi itu, saya sedang memvisualisasikan salah satu kampus di UGM, fakultas psikologi lebih tepatnya? Kenapa kok bangun di sana? Ini yang jelas kerjaan dari alam bawah sadar saya, soalnya akhir-akhir ini kehidupan saya diwarnai oleh hal-hal berbau psikologi, mulai dari buku, film, game, sampai bla bla bla yang tidak bisa saya sebutkan.
Sekedar tambahan ilmu, jadi alam bawah sadar ini (subconcious mind) yang paling dominan di dalam membentuk visual di mimpi, kecuali kalau sudah level tinggi banget biasanya alam sadarnya yang dominan, itu sudah tingkatan dewa. Bilang WOW doong, wooow :o

Sampai di mana kita? Sampai di fakultas psikologi ya, oke. Jadi ceritanya ketika sudah di kampus psikologi, di sana ada suatu acara semacam expo. Jadi saya ada di sisi selatan kampus psikologi, yang di utara maskam. Hanya yang pernah mampir di sana yang mengerti deskripsinya :p
Nah dari sisi selatan itu, saya melihat ke arah utara, wah kondisinya ramai, banyak stand-stand dari berbagai peminatan hobi di sana. Yang saya ingat benar itu ada UKM semacam airsoft gun begitu, jadi saya membuntuti salah satu anggotanya menuju ke stand UKM itu. Baru jalan beberapa meter, eh dari kejauhan saya melihat suatu sosok di kejauhan, kira-kira 43 m, dan saya terkejut!
Kenapa terkejut? Oh gosh, she is my crush! Orang yang selama ini saya pikirkan terus sampai terbawa mimpi begini. Ini pasti konspirasi alam bawah sadar saya -_-"
Di sana, dia sedang berbicara dengan teman-temannya, seperti mengerjakan tugas begitu. Eh tunggu, ini kan expo, kok mereka ngerjain tugas di sana? Yah namanya juga mimpi :p
Dari situ saya agak canggung mau lanjut jalan, sumpah di sini saya kira bukan mimpi loh, saking kagetnya lihat di mimpi begitu, timbul tiba-tiba seperti itu ketika di dunia nyata dia seperti menghilang. Mirip kasus Mal muncul di setiap mimpi Cobb dari fim Inception.
Ketika merasa canggung tersebut, saya mencoba mendekati dia perlahan dengan jalan memutar dulu, pura-pura memperhatikan stand. Dan semakin dekat saja ke tempat dia berada. Ceritanya saya sudah senang ini mau negur dia, soalnya sudah lama gak ketemu begitu :o
Pas saya lihat tempat itu, eh ternyata bukan dia, lagi-lagi alam bawah sadar bermain-main dengan saya. Ya jelas saya kecewa lah, sudah senang mau ketemu eh malah diganti objeknya. Asal tahu saja, sudah sebulan mungkin saya belum lagi bertemu dengannya, sepertinya dia sedang sibuk jadi susah kalau mau diajak ketemuan.
Seketika itu juga, setelah dikecewakan, saya akhirnya sadar kalau ini masih mimpi, ya masih mimpi, dengan segala ketidaklogisannya. Karena sudah kecewa begitu, akhirnya saya pasrah saja, akhirnya cuma mengikuti alur cerita di mimpi dan terbangun...

Yah begitulah cerita mimpi saya siang ini. Akibat dari terus-terusan memikirkan gebetan (katanya) jadi terbawa deh.
Asal tahu saja, dia gak cuma muncul siang itu saja, tapi hampir di setiap mimpi saya, bahkan di mimpi dangkal sekalipun (mimpi dangkal: mimpi yang muncul pas lagi teklak-tekluk).
Kutipan yang saya buat dari cerita ini adalah:

"Sepertinya dia mulai menjauhi saya, entah ini sekedar ujian atau suatu sinyal halus dari penolakan."

Mungkin karena kutipan ini, jadi dia selalu muncul di hari-hari saya. Sinyal itu pun sepertinya bukan tanpa sebab, saya agak tahu sebabnya, sedikit, mungkin karena ada sesuatu. Sekian.

02 October 2012

Cerita Tentang Sesuatu dari Orang yang Tersembunyi (Part 1)

Tidak banyak orang yang mau terbuka akan sesuatu, tidak sedikit juga orang yang selalu menutup diri, berselimut di dalam bayang-bayangnya sendiri agar segala rahasianya tidak menguak ke khalayak ramai.
Dari orang-orang yang menutup diri itu, ada segelintir yang merelakan sebagian waktunya untuk bercerita, memaksa diri mereka untuk sedikit terbuka dengan orang lain, khususnya kepada teman dekatnya.
Dari yang membuka diri sedikit itu, mengerucut lagi menjadi beberapa cerita, di antaranya ada yang konyol dan ada yang mengharukan, ada juga yang membosankan.
Dari kumpulan cerita itu mengerucut lagi menjadi satu kisah yang biasa saja, yang tidak menghebohkan dunia persilatan (?), tidak juga menghebohkan dunia pernovelan, karena cerita ini tidak pernah dipublikasikan selain di blog ini.

Baiklah akan saya ceritakan, sebuah kisah yang bisa saja dari seorang teman, bisa juga dari selain teman, kita sebut saja tokoh utama dengan sebutan "dia". "Dia" di sini tidak terlepas wanita ataupun pria, "dia" fleksibel, mengikuti egoisme penulis karena hak saya adalah mutlak dalam tulisan ini :v

Jadi ceritanya dia itu sudah menginjak bangku SD, dia sangat pemalu sehingga selalu di-bully oleh teman-temannya yang nakal, yang kepala batu, yang bisa saja memusuhi si dia jika ada ketidaksetaraan dalam hal penilaian mata pelajaran. Sungguh tidak dewasa bukan? Ya memang, itulah anak-anak SD ababil yang tinggal di balik gunung, yang belum mengetahui penuh bahwa dunia itu tidak melulu soal sekolah di kampung tertentu.
Oh iya, dia duduk di bangku SD kelas 6 saat itu. Masih cupu, masih pemalu, enggan bertindak nakal, enggan membalas kenakalan anak-anak ababil itu. Dia juga pendiam, sampai-sampai para guru memperhatikan dia secara berlebihan. Meng-anakemas-kan lebih tepatnya, sehingga timbul kecemburuan di mata anak-anak ababil yang kurang belaian orang tua itu. Ya, semua bahan bisa dijadikan sebagai bahan bully bagi anak-anak kampret ini, bagi mereka menjadi berandal adalah suatu keharusan untuk menarik perhatian kaum hawa. Sedangkan si dia, si cupu itu, sebenarnya menaruh hati pada salah seorang gadis, teman sekelasnya. Tapi dia bingung bagaimana menarik hati si gadis itu, untuk menjadi berandal pun dia enggan kok, dia sudah dididik menjadi seorang anak yang tidak mau merugikan siapapun. Alhasil dia masih bingung... dan bingung...
Hingga suatu hari dia putuskan untuk melupakan saja perasaan itu, karena kelulusan SD semakin dekat, dan dia mau melanjutkan SMP ke kota.
Berita kelanjutan ke SMP itu sontak terdengar luas kemana-mana...
Tidak ada yang istimewa dari bocornya berita itu, semua masih biasa-biasa saja sampai kelulusan SD sudah benar-benar terjadi. Info kelulusan sudah jelas, satu angkatan lulus semua, dan si dia masih bingung kapan akan mengungkapkan perasaannya.
Ah memang si dia dasarnya pemalu...
Tapi pada akhirnya dia menemukan keberanian, dan dia berhasil mengungkapkan perasaannya. Tetapi apa yang terjadi? Gadis itu tidak memberi jawaban yang jelas, soalnya gadis itu sudah ada yang punya :D
Sampai tiba waktunya untuk pendaftaran SMP di kota. Jadi? Ya, ceritanya gantung saudara-saudari, haha.
Karena memang begitulah adanya, si dia digantung. Untungnya si dia ini orangnya cuek begitu, tidak terlalu menghiraukan yang namanya cinta. Bagi dia, ilmu pengetahuan itu yang utama #tsaaah.
(Bagaimana kalau kita loncat beberapa satuan waktu? Oke...)
Tiba saatnya masuk sekolah. Ya, dia diterima di SMP kota itu, dia adalah satu dari 5 siswa SD luar daerah. Dari puluhan yang mendaftar, hanya 5 yang diterima, si dia pun sangat senang, jerih payahnya selama ini terbayar juga akhirnya.
Masuk sekolah berarti teman baru, sama sekali baru, tidak ada satupun teman masa SDnya, dia pun kesepian (sementara). Hanya selang beberapa minggu dia sudah punya teman-teman baru yang asik-asik, dan tentu saja kebanyakan cowok, haha.
Dari sinilah cerita kenakalan dia dimulai, dari pendiam jadi agak berandal... Itulah lingkungan, bisa membuat kepribadian seseorang mengalami perubahan drastis.
Oh iya, bagaimana kisah dia dan si gadis SD itu? Mandeg ternyata, macet, karena selama SMP itu mereka lost contact. Dan akhirnya si dia dan si gadis SD itu menjalani kehidupannya masing-masing, dalam diam (ini lebay).
Kembali ke si dia, selama SMP ini dia sangat konsen terhadap pelajaran, sampai-sampai tidak memikirkan cinta, hingga tiba ketika dia pindah ke kelas bergengsi, kelas berbahasa Inggris (katanya), dan sebagian orang bilang kelas itu apatis, agak menutup dari dunia luar (oke ini lebay).
Oh iya, ada yang terlewat, tentang masa berandalnya...
Baiklah untuk urusan itu nanti dilanjutkan di bagian kedua saja...

Bersambung...

"Jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan, karena kesempatan itu tidak datang berkali-kali."
-Anonim, kutipan klasik-

27 September 2012

Cinta, Apa Itu?

Awalnya saya agak malas menulis hal ini, karena saya kurang suka dengan cerita menye-menye, tapi karena tuntutan pasar (?) akhirnya saya putuskan untuk bercerita mengenai apa itu cinta.
Sebetulnya saya terinspirasi oleh cerita seorang teman yang menulis tentang kehidupan remajanya khususnya masalah cinta waktu SMP. Dia seangkatan dengan saya, satu SMP dengan saya, satu SMA, dan satu fakultas di universitas yang sama. Bosan? Ya, saya bosan terus menerus bertemu dengannya, ah tapi bosan itu berwujud suatu rasa senang yang saya sendiri tidak tahu pasti namanya apa. Oh mungkin ini yang namanya cinta?
Ah jelas bukan, soalnya dia laki-laki saudara-saudari, masa iya saya maho? Meskipun banyak rumor beredar kalau saya mengalami disorientasi seksual, tapi tenang... saya normal kok, sama seperti lelaki lainnya, cuma beda di warna kulit dan otot (?).

--o---o--

Kembali ke benang merah, ayo kita bahas apa sih cinta itu? 
Jadi cinta itu adalah sebuah ikatan benang merah antara pria dan wanita (entah pria dengan pria atau sebaliknya --homoseks--) yang menghasilkan sebuah denyut jantung yang berbeda dari biasanya, lebih cepat beberapa kali normalnya. Rasa itu bisa membuat kita bertingkah lain dari biasanya, lebih melankolis dari biasanya, lebih jengkelin kalau kata orang lihat kita, haha.
Yah begitulah memang, kadang itu menjadikan kita tidak menjadi diri sendiri, bisa memakan kewarasan sesaat kita, membuat kita terus-terus berpikir tentangnya, mencoba untuk menyelam ke dalamnya, berusaha untuk memaksa diri untuk memaklumi hal yang tidak wajar ini.
Jadi itulah definisi cinta secara panjang lebar versi saya, subjektif ya kedengarannya. Ah subjektif tapi pada sepakat kan?
Perlukah saya jelaskan perjalanan cinta saya? Ah rasanya tidak perlu ya, toh itu masalah pribadi :)
Rasanya sudah cukup dulu saya berikan definisinya, untuk selanjutnya menyusul mengenai ceritanya, entah dengan protagonis siapa...

"Jangan sampai membuatmu buta akan hal yang melayangkanmu."
-Tiko, dari pikiran randomnya (seperti biasa)-

14 September 2012

Kuliah Kerja Nyata, Sebuah (Satu Bagian) Pelajaran Hidup

Hidup adalah proses belajar, mulai dari kita bayi sampai bujangan seperti ini, tak henti-hentinya proses itu kita jalani. Tak terasa sudah 2 dasawarsa lebih saya menjalaninya, banyak hal yang dipelajari, baik dan buruk, bersumber dari orang tua dan keluarga besar, guru, dan seluruh penjuru tanah air (?).
Biasanya, perjalanan ini agak macet ketika kita sudah menginjak remaja, karena tertutupi oleh rasa ego yang tinggi. Biasa... remaja..., begitu pikir orang tua dan para sesepuh kita.
Tetapi ketika menginjak umur 20 tahun ke atas, biasanya rasa ego itu berkurang (sedikit), yang akhirnya membuka sedikit jalan masuk untuk mempelajari lagi segala sesuatu tentang hidup. Kalau di game "The Sims", umur 20 tahun ke atas adalah masa adult teen, yang berarti peralihan dari remaja menuju dewasa.
Ya, kita sudah semakin dewasa saja, saudara saudariku...
Dewasa dalam artian secara umur, namun secara pikiran itu tergantung individu masing-masing. Seperti kata seseorang (saya lupa), "Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.".

--o---o--

Sebenarnya, tulisan ini adalah lanjutan dari "Lembaran Kehidupan Baru" yang sudah pernah saya publikasikan sebelumnya. Jika Anda belum membacanya, silahkan dibaca (kalau mau, saya juga tidak memaksa).
Jadi KKN ini adalah salah satu terobosan dalam lembaran kehidupan, dan itu bisa dibilang baru (namanya juga terobosan).
Realitanya, saya dan teman-teman satu unit, dalam hal ini unit 27, ditempatkan di Desa Ponggok, suatu desa kaya yang bertempat di Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Satu unit itu dipecah lagi menjadi beberapa subunit: 1, 2, 3, dan 4. Masing-masing subunit ditempatkan di dusun yang berbeda-beda.
Subunit 1 di Ponggok 1, subunit 2 di Ponggok 2, subunit 3 di Kiringan (yang ini paling sesuatu), dan subunit 4 di Umbulsari.
Saya kebetulan bertengger di subunit 2 bersama dengan beberapa teman saya yang lain. Dan secara sengaja sekali, hanya saya satu-satunya anak teknik di subunit ini (mantap!).
Di KKN ini, ada satu hal yang membingungkan kami, khususnya anak teknik, mengapa?
Karena tak dinyana, desa ini kelewat kaya sehingga tidak lagi membutuhkan pembangunan fisik, terus?
Ya naluri kami kan membangun dan membangun dan terus membangun, itulah mindset awal kami. Ya sudah kalau memang tidak butuh pembangunan fisik, setidaknya bagian dalam desa ini mengalami kegalauan, tidak perlu saya jelaskan ya rasa-rasanya.
Untung saja, semua klaster tidak harus menjalankan program sesuai bidangnya, setidaknya ini cukup membantu untuk memikirkan program di luar sains teknologi. Dan secara kebetulan yang sangat disengaja, program saya kebanyakan dari klaster sosial humaniora, mau tidak mau supaya memenuhi jam kerja.
Yah namanya juga harus memenuhi jam kerja, tentu saja tidak jauh dari yang namanya 'penyesuaian', ah "if you know that I mean".
Kita lupakan saja apa itu program kerja, setau saya ini tidak terlalu penting untuk disampaikan :p

--o---o--

Kembali ke benang merah, sebenarnya saya mau bercerita tentang hal-hal yang saya dapat selama KKN, tentunya tentang kehidupan, yang saya sebut-sebut sebagai terobosan.
Agak berlebihan memang kalau saya sebut sebagai terobosan, tetapi anda sebagai pembaca seharusnya tidak usah terlalu memikirkan ya, toh saya mutlak atas tulisan saya (peace) :D
Satu hal, ya satu hal yang saya dapat dari KKN ini, yaitu tentang kebersamaan, kekompakan dalam tim. Di sana saya belajar bagaimana berkomunikasi dengan disiplin ilmu yang lain, yang jelas-jelas agak sangat berbeda jalan berpikirnya dengan filosofi keteknikan.
Berbeda dalam hal cara berpikir itu termasuk tembok penghalang komunikasi antar individu, karena kami dari berbagai fakultas berusaha untuk mempertahankan ego, tapi itu hanya berlaku di awal-awal, selang beberapa minggu akhirnya ego itu sudah tidak terlihat, karena sudah mulai berbaur dan mulai bisa menerima berbagai pikiran 'yang aneh-aneh' :))
Untuk bisa bekerjasama menjalankan suatu program 'andalan', tentu saja tembok itu harus dihilangkan jauh-jauh, paling tidak cukup dirubuhkan sedikit dulu tanpa meruntuhkan fondasinya (tsaaaah pikiran keteknikan mulai muncul). Karena jika fondasinya runtuh, ya hilanglah 'idealitas' kita. Kenapa idealitas saya beri tanda petik? Karena pada umumnya kita mengakui memiliki idealitas masing-masing, ah tapi itu cuma wacana kok, toh pada akhirnya realitaslah yang dominan, iya kan? :p
Nah ketika penghalang itu sudah tidak lagi menjadi masalah, timbullah suatu bangunan baru yang dinamakan jembatan komunikasi, yang berfungsi untuk menyambung aspirasi dari berbagai elemen disiplin ilmu. Kita padu mereka (aspirasi-aspirasi) ke dalam suatu wadah. Kita tampung di sana untuk kemudian kita pecahkan, kita pikirkan, kita salurkan, tentu saja sesuai dengan kesepakatan masing-masing.
Intinya, musyawarah dan musyawarah, diskusi dan diskusi, sampai didapatkan suatu premis yang bisa dibilang masuk akal, tidak merugikan siapapun, dan tanpa paksaan siapapun (biasanya ada yang maksa tapi itu gak masalah).
Dari diskusi dan diskusi yang intens inilah, akhirnya saya bisa menemukan suatu terobosan. Kemampuan berbicara lumayan meningkatlah, tidak seperti biasanya. Biasanya saya pendiam gitu deh (terserah anda mau percaya atau tidak, haha).
Lalu... ah bagaimana kalau ini saya sambung nati saja dulu ya? Sudah kebanyakan ngetik capek cyiiin :))
Sampai jumpa di post selanjutnya yang belum pasti kapan akan saya lanjutkan :p

"Chase your passion, so you can feel the essence of your life."
-Tiko, from my random thought-

20 August 2012

Lembaran Kehidupan Baru

Kalau dilihat dari judul, jangan berpikiran bahwa saya akan segera menikah. Judul itu hanya menandakan saya menemukan suatu lembaran baru dalam hidup saya yang berdampak pada kehidupan masa depan, setidaknya mulai saat ini hingga beberapa tahun lagi.
Apa sih lembaran hidup baru itu?
Menurut wikipedia, silahkan cari sendiri, dalam hal ini saya akan mendefinisikannya sendiri sesuai keinginan pribadi, tanpa paksaan dari pihak manapun, tanpa diintimidasi oleh berbagai kumpulan energi negatif lainnya.
Jadi lembaran hidup baru itu adalah suatu penemuan atas jati diri kehidupan dari berbagai aspek, mulai dari keuangan, idealisme, filosofi, jodoh, dan keteknikan (?). Keteknikan itu hanyalah satu intermezzo yang saya paksa masukkan karena sejatinya saya adalah anak teknik, hehe. Penemuan jati diri itu harus sama sekali baru dan sama sekali berbeda dengan diri kita yang sekarang. Jadi definisinya sudah jelas ya? Oke lanjut kalau begitu.
Nah lembaran hidup baru itu bisa ditemukan dari berbagai sebab. Ada yang didapat karena dibimbing oleh rekan, ada juga yang menemukan sendiri dari sebuah latihan yang diadakan oleh institusi tertentu.
Untuk kasus saya, merujuk pada latihan yang diadakan oleh institusi tertentu, dalam hal ini tidak akan saya sebutkan. Yang jelas institusi itu --ah kita sebut saja lembaga-- khusus menangani bidang pemberdayaan masyarakat. Dari pikiran kita pasti yang terbayang adalah suatu pelatihan pembelajaran yang bernama KKN (Kuliah Kerja Nyata).
Naga-naganya tidak perlu saya jelaskan apa itu KKN, saya rasa pembaca di sini sudah pernah merasakannya, khususnya yang angkatan tua (apa kabar skripsi?).

--o---o--

Jadi kebetulan saya KKN ditempatkan di Desa Ponggok, Klaten. Desa dimana air bersih melimpah dengan beberapa titik air mata, eh mata air, yang tersebar di sekitarnya. Saya lupa ada berapa mata air di sini, yang jelas semua bersih dan bisa dipakai untuk mandi, cuci baju, dan minum (kalau mau dan kebal terhadap bakteri patogen pengganggu pencernaan).
nb: Untuk cerita mengenai KKN ini nanti akan saya jelaskan lebih lanjut serta terinci di postingan selanjutnya, jadi kali ini khusus membahas mengenai lembaran baru saja ya.

Apa sih lembaran kehidupan baru yang saya dapat dari KKN itu?
Jawabannya... ya banyak sekali. Banyak banyak banyak sekali. Suatu pengalaman yang belum pernah saya alami di ruang pikiran normal saya selama duduk di bangku universitas rakyat.
Dari KKN itu sendiri saya menemukan satu filosofi hidup baru, suatu pencerahan yang saya cari-cari selama ini, bahwa hidup itu tidak selamanya linier dan tubuh tidak semestinya tersier (kayak lirik lagu ya?).
Salah satu filosofi hidup yang saya dapat adalah bagaimana kita (harus bisa) berharmoni dengan anak-anak. Saya termasuk orang yang kurang bisa meng-handle anak-anak (itu dulu), tapi semenjak KKN saya jadi lumayan agak bisa menangani mereka, terima kasih tong fang (?). Kok bisa? Ya bisa dong, saya mempelajarinya langsung dari mahasiswa psikologi satu pondokan, hoho.
Ternyata... menangani anak-anak tidak sulit kok, cuma butuh sedikit kesabaran, hitung-hitung latihan jadi bapak :)
Itu... baru satu dari sekian filosofi hidup yang saya dapat, masih banyak yang lainnya. Tapi karena terkendala oleh rasa malas yang menjerat alam kesadaranku, jadinya terhalang deh.

Satu lagi lembaran kehidupan baru yang saya dapat dari KKN. Seperti kata dosen waktu pembekalan,"KKN adalah kesempatan terakhir untuk mendapatkan jodoh."
Awalnya perkataan dosen itu saya anggap sebagai suatu gurauan. "Ah masa?" gumam saya. Tak dinyana saya termakan oleh gumaman saya sendiri.
Sebuah gumaman yang pada akhirnya menyeret saya ke dalam lubang (halah) yang terang, yang penuh oleh bunga-bunga penyambut kebahagiaan. Tergambarkan oleh bunga lily warna pink yang menyeruak dari sebuah lingkaran abstrak, memberikan kesegaran bagi siapapun yang menyadari keberadaannya.
(Terlalu puitis saudara-saudara... Ini berbahaya, ini bukan diri saya.)
Tapi ini justru sebagai kemajuan dalam lembaran kehidupan saya, dulu saya tidak serius memikirkan hal ini. Baru kemudian setelah sadar bahwa saya sudah tahun keempat, itu berarti saatnya untuk mencari tulang rusuk yang terselip (bukan hilang). Ditambah lagi oleh pertanyaan orang tua dan keluarga, "Sudah ada ehem belum?"
Pertanyaan yang belum bisa saya jawab hingga beberapa minggu ke depan, setidaknya sampai sekarang saya masih berusaha untuk menjemputnya, berusaha membingkainya dalam sebuah cerita baru perjalanan kehidupan. Saya serius akan hal ini, tidak pernah saya seserius ini :)
Semoga lembaran baru ini bisa sukses...

Sekian...

"onaji hoshi ni tatte, anata wo zutto matte itai"

01 February 2011

Memasyarakatkan Kembali Transportasi Massal

Ah, lama rasanya saya gak update blog ini, sudah berapa tahun ya?
Yah kurang lebih setahun lah

Langsung ke inti ajalah
Posting kali ini saya akan membawa sebuah topik yang ... ah mungkin sebagian bilang tidak perlu, sebagian tidak perduli, tapi saya bilang ini perlu.
Mengapa?
Coba deh kita lihat sekitar kita, motor dijual terjangkau sehingga banyak yang beli.
Mobil meskipun mahal, tapi bagi kalangan di atas garis kekayaan, tentu membeli mobil bukan suatu hal yang sulit, bahkan bagi mereka mobil ada kebutuhan.
Bayangkan saja kalangan menengah dan kalangan kaya itu punya kendaraan pribadi masing-masing, asumsikan saja 1 motor dimiliki 1 orang dan 1 mobil dimiliki 1 keluarga, ini hanya asumsi loh, kita lupakan saja yang punya 2 mobil dalam 1 keluarga, hehe.
Sudah bisa anda asumsikan dan anda gambar dalam otak anda sekalian?
Kalau sudah bayangkan lagi anda berada di kota besar, anggaplah Jakarta, penduduknya berapa, saya gak tau persis, jadi anggap aja ada 1 juta (entah itu kelebihan atau ada yg kurang, mohon koreksi).
Sudah barang tentu pasti akan macet bukan?
Coba kita lihat gambar di bawah ini


Gimana? Semrawut kan?
Gambar itu saya dapat dari hasil gugling.
Kita bayangkan saja 5 tahun lagi, ah tidak, mungkin 3 tahun lagi ajalah.
Sudah barang tentu pasti akan lebih kacau dari gambar di atas, maukah kalian kalau kota Jakarta jadi lebih semrawut seperti itu?
Kalau saya sih gak masalah, soalnya Jakarta bukan kota saya, hehe peace jangan anggap serius, just joke.
Tentu tidak mau kan seperti itu? Kalau sudah begitu mau kemana-mana juga pasti macet, mending jalan kaki dah kalau gitu, tapi masalahnya, gak semua tempat bisa kita akses hanya dengan jalan kaki, bisa gempor malahan.
Nah untungnya pemerintah Jakarta itu baik, mereka sudah sediakan bus transjakarta, inilah cikal bakal dari MRT masa depan, meskipun belum semua tempat bisa diakses, tapi lumayanlah buat mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang tidak manusiawi itu.

Mungkin gak semua masyarakat setuju dengan adanya bus seperti itu, ada lajur khususnya, bikin macet katanya. Memang seperti itu, hal inilah yang ingin dibidik oleh pemerintah, mereka mau kita semua menggunakan transportasi massal. Adapun dibuat lajur khusus yang bikin macet itu yaitu cuma strategi, saudara-saudari sekalian.
Nah kalau macet kan pasti lirik-lirik bus trans tuh, kalo udah gitu pada pengen naik transjakarta toh? Hehe.

Ah itu seputar Jakarta, saya gak tau sedetil yang orang Jakarta tahu.
Karena saya berdomisili di Jogja, ya paling tidak sampai lulus S1, ya saya cuma tahu kondisi yang sebenarnya di Jogja.
Jogja juga punya bus trans seperti transjakarta, namanya bus transjogja.
Meskipun baru beberapa tahun beroperasi, tapi sya rasa pelayanannya sudah cukup baik lah.
Hanya saja masih banyak tempat yang belum terjamah oleh transjogja, inilah yang akan jadi PR kita semua, terutama mahasiswa teknik sipil, termasuk saya, hehe.
Kalau saja seluruh masyarakat Jogja mendukung penuh kehadiran bus ini, mungkin suatu hari akses akan diperbanyak, jadi dimana-mana ada, jadi gak perlu lagi yang namanya kendaraan pribadi.
Oke saya rasa kita gak mungkin kan meninggalkan motor mobil kesayangan kita, jangan dijual apalagi dibuang, mending masih kita pakai untuk jarak dekat tapi kita malas jalan, masih berguna bukan?

Nah dengan melihat segala kemungkinan di beberapa tahun ke depan, mari kita masyarakatkan kembali penggunaan transportasi massal, lebih nyaman lebih aman dan lebih cepat (kalau soal kecepatan sangat relatif, oke kita gak perlu berdebat tentang hal ini).
Dengan penggunaan transport massal itu, pasti akan mengurangi penggunaan bahan bakar, dan bahan bakar itu pasti efektif, sehingga mengurangi efek dari global warming.

Ayo, kita gunakan transportasi massal (untuk kalian yang bisa mengaksesnya dengan mudah), kecuali di tempat kita gak ada transportasi massal sedikitpun.

Oke salam sehat selalu, jya... mattane...

28 February 2010

Kenapa Saya Masuk Teknik Sipil UGM?

Kenapa ya? Awalnya gak tau mau masuk jurusan apa, awalnya aku dengar dari mulut ke mulut kalo teknik sipil ugm itu terbaik di Indonesia, terutama bidang transportasi dan hidrologinya, kalau struktur mungkin ugm kalah sama itb.
Ayo kita flash back dulu ke belakang...

Waktu kecil dulu, kira-kira pas masih TK, aku pengen jadi ABRI, sangar kan? Kecil-kecil sudah mau membela negara, hahaha

Waktu terus berlanjut, tiba-tiba pas SD aku mau jadi astronot, mungkin gara-gara belajar tata surya di kelas 6 SD.
Terus pas SMP, mau jadi pembuat game (cita-cita yang aneh).
Terus pas SMA, kosong, hampa tanpa cita-cita.
Dan kemudian suatu hari, aku nonton national geographic, nah waktu itu acaranya mega structure, kebetulan waktu itu lagi nampilkan bandara kansai di jepang, bandara yang -menurut saya- paling mewah dan hebat.
Ini gambar bandaranya



Silahkan liat dan tafsirkan sendiri, karena bandara itulah, saya tertarik untuk mempelajari bidang teknik sipil, terutama transportasi dan struktur.
Dan cita-cita saya adalah membangun peradaban dengan bangunan yang indah dan ramah lingkungan tentunya.
Dan inilah cita-cita final saya.
Insya ALLAH...